PTPN I Dorong Hilirisasi Kelapa di Lampung

Linkarutama.com – Ribuan pohon kelapa di Desa Bulok, Lampung Selatan, tak sekadar menjadi lanskap kawasan pesisir. Bagi masyarakat setempat, kelapa merupakan sumber penghidupan yang terus dikembangkan.

Melalui pendampingan PTPN I (Persero), potensi tersebut kini didorong naik kelas melalui hilirisasi, dari komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah berupa gula semut.

Desa Bulok merupakan salah satu desa penyangga Kebun PTPN I Regional 7 Kebun Bergen. Di wilayah ini, PTPN I mendampingi masyarakat melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), mulai dari sosialisasi, kajian ekonomi dan prospek pasar, pelatihan pengolahan serta pengemasan, bantuan teknologi dan mesin produksi, penyediaan bibit unggul, hingga pendampingan bisnis.

Pendampingan tersebut membuka peluang baru bagi puluhan petani kelapa. Jika sebelumnya kelapa lebih banyak dijual dalam bentuk butiran, kini sebagian masyarakat mengolah nira menjadi gula semut dengan merek Nila Sari. Produk tersebut diproduksi oleh Gapoktan UKM Gula Kelapa yang diketuai Suprayitno.

“Alhamdulillah, berkat pendampingan dari PTPN I, kami para petani kelapa yang sebelumnya hanya jual kelapa mentah butiran, kini sudah lebih maju dan produktif. Semula kami ragu memproduksi gula semut, tetapi setelah berjalan, kami merasakan bedanya dari sebelumnya,” kata Suprayitno di rumah produksinya, Selasa (8/9/2026).

Menurut Suprayitno, pengolahan nira menjadi gula semut juga mengubah pola kerja masyarakat. Jika sebelumnya petani menunggu kelapa tua untuk dipanen, kini aktivitas produksi berlangsung setiap hari, mulai dari menderes nira, mengolah, hingga mengemas produk.

“Tidak seperti dulu yang kita cuma nunggu kelapa tua baru punya kerjaan, yaitu panen. Kalau sekarang, kami seperti pegawai juga, setiap hari harus kerja menderes, mengolah, sampai mengemas. Tetapi ya alhamdulillah hasilnya juga jauh lebih besar,” ujarnya.

Ia menilai hilirisasi memberikan nilai tambah yang nyata.

Selain meningkatkan produktivitas, kegiatan tersebut menciptakan aktivitas ekonomi baru dan membuka kebutuhan tenaga kerja di tingkat masyarakat.

“Alhamdulillah, kami mendapatkan ilmu baru dari PTPN I mengenai bagaimana membuat gula semut. Jadi, hasil perkebunan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Kalau kata orang, ini bentuk hilirisasi. Kami juga dapat bantuan bibit kelapa unggul dari PTPN I, hampir seribu bibit,” katanya.

Pendampingan PTPN I tidak berhenti pada proses produksi.

Perusahaan juga mendorong penguatan kualitas, pengemasan, merek, hingga akses pasar agar produk masyarakat memiliki daya saing yang lebih baik. Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai pemasok bahan baku, tetapi sebagai pelaku dalam rantai nilai komoditas.

Direktur Utama PTPN I (Persero) Abdul Rivai Ras mengatakan, pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah kerja perusahaan diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi melalui penciptaan nilai tambah.

“Prinsip kami, pemberdayaan masyarakat harus mampu mengubah potensi menjadi nilai. Komoditas yang selama ini dijual dalam bentuk mentah perlu didorong agar memiliki nilai tambah melalui pengolahan, pengemasan, penguatan merek, dan akses pasar. Saya sangat senang mendengar progres produksi gula semut ini,” kata Abdul Rivai.

Menurutnya, hilirisasi merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi masyarakat. Pengolahan komoditas di tingkat lokal memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar sekaligus memperkuat kapasitas UMKM.

“Ketika potensi kelapa tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk seperti gula semut yang berkualitas dan memiliki kemasan yang baik, maka peluang nilai ekonomi yang tercipta menjadi lebih besar. Di sinilah UMKM memiliki peran strategis,” ujarnya.

Abdul Rivai menegaskan PTPN I akan melanjutkan pendampingan secara terintegrasi, mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, teknologi dan peralatan, penyediaan bibit, peningkatan kualitas produk, hingga perluasan akses pasar.

“Kami berharap Nila Sari tidak berhenti sebagai produk lokal. Dengan pendampingan yang konsisten, kami ingin UMKM mampu menghasilkan produk berkualitas, memiliki daya saing, dan mampu menembus pasar yang lebih luas,” kata Abdul Rivai.(*)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *