Linkarutama.com – Puluhan mahasiswa aksi unjuk rasa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lampung menggelar orasi di depan pintu gerbang Kantor DPRD Provinsi Lampung dan Kantor Gubernur Lampung berlangsung nyaris memicu keributan, Senin (29/6/ 2026).
Dalam gelar aksi tersebut, massa menyampaikan tujuh gugatan besar yang mereka sebut sebagai “Gerbang Sumatera” untuk disampaikan kepada wakil rakyat (DPRD) dan Pemerintah Provinsi Lampung sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat.
Tampak puluhan mahasiswa PMII dari berbagai kampus di Lampung ini tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 WIB. Awalnya situasi dilapangan sempat memanas karena aksi saling dorong dengan Satpol PP dan aparat Kepolian yang berjaga di depan gerbang pintu masuk.
“Kami tidak akan anarkis, kami datang hanya menyampaikan aspirasi demi tegaknya keadilan,” ucap salah satu mahasiswa.
Akhirnya, mahasiswa PMII kemudian berhasil masuk ke lingkungan DPRD dan ditemui oleh Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan dan beberapa anggota Fraksi PKS Syukron Muchtar dan Wakil Ketua DPRD fraksi PDIP Kostiana,SE,MH. Akan tetapi, puluhan masa aksi menolak hanya ditemui Sekdaprov dan satu anggota DPRD.
Mereka mendesak agar Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela serta para pimpinan DPRD untuk datang menemui mereka dilapangan
“Kami tunggu di sini, meski hingga sore juga tidak apa-apa,” kata mereka kompak.
Menanggapi hal tersebut, Sekdaprov Marindo Kurniawan menyampaikan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung tidak bisa hadir karena memiliki agenda yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari.
“Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung tidak bisa hadir karena sudah ada agenda yang dijadwalkan dari jauh hari. Mohon maaf sebesar-besarnya,” kata Marindo.
Marindo menegaskan, kehadirannya di sini ditugaskan untuk menerima aspirasi mahasiswa mewakili Pemerintah Provinsi Lampung.
“Dalam struktur pemerintahan, ada pembagian tugas, dan saya hadir menemui dalam rangka mewakili Pemprov Lampung. Jangan sampai kalian menganggap Pak Gubernur tidak menghargai PMII, tapi dalam kinerja pemerintahan ada pembagian kerja, kalau tidak ada pembagian kerja, bisa ambruk Pak Gubernur,” tambah Marindo.
Pernyataan itu ditanggapi oleh perwakilan PMII, Munif. Menurutnya, jika tak ingin ambruk, jangan jadi Gubernur Lampung, ucapnya.
“Kalau tidak mau ambruk jangan jadi Gubernur Lampung. Tolong hubungi via Telpon atau apalah, kami siap menunggu kehadiran Gubernur atau Wakil Gubernur Lampung,” tegasnya. Para aksi mahasiswa kekeh agar minimal setidaknya hadir 4 perwakilan dari 7 Fraksi yang hadir.
Hingga kurang lebih 30 menit, hadir Wakil Jihan Nurlela, wakil Ketua DPRD Kostiana (PDIP), Ketua Komisi II Ahmad Basuki (PKB), Syukron Muchtar (PKS), Budi Hadi Yunanto (PKB).
Dan ada beberapa pimpinan serta Anggota Fraksi lainnya sedang dalam perjalanan. Kemudian, mahasiswa PMII meminta juga agar ada perwakilan dari Fraksi Gerindra.
Akhirnya, M Reza (Gerindra) hadir di lokasi. Kemudian Wakil Gubernur Jihan Nurlela sekira pulul 14:20 WIB menemui aksi demo bersama Sekdaprov Lampung.
Hingga akhirnya aksi mahasiswa PMII, dari penyampaian orasi dan pertemuan tersebut, menemui kesepakatan.
Kesepakatan tersebut berupa penandatanganan aspirasi yang akan di sampaikan ke pemerintah pusat, namun, kebijakan yang bersifat daerah akan di tindaklanjuti ke OPD terkait.(*)

