Tantangan Jurnalis di Era AI, Efisiensi Tergantung Penguasa

Oleh: Heris Drianto

Wartawan Utama (2018).

 

Linkarutama.com – Jika kita jujur melihat kondisi perekonomian yang bisa kita katakan tidak stabil baik nilai tukar rupiah dan harga harga kebutuhan melambung tinggi yang semakin dikeluhkan masyarakat. Maka, tingkat volume tantangan etika, adab dan risiko kehidupan hingga kriminal di masyakat termasuk meningkatnya dalam membela urusan perut tentu akan menjadi banyak volume perubahan angka , Minggu (2/8/2026).

Selain itu, meningkatnya potensi penyebaran misinformasi, disinformasi, serta halusinasi data dari sistem AI menjadi trend di era yang semakin konfleks saat ini.

Disinilah cermin evaluasi yang semestinya di ingat bagi kalangan penguasa yang mandatnya telah di kontrak 5 tahun dan tidak merasakan hal hal tersebut. Sekecil masalah masayarakat misalnya sang penguasa tidak akan pernah mengalami belanja beras yang dibeli hanya 1kg, 2 kg bahkan dihadapan penulis ada yang membeli beras setengah kg dengan merk terkenal SPHP atau gas elpiji habis listrik harus di bayar bahkan perihnya hati untuk sedikit menyisihkan ongkos anak sekolah yang terasa meneteskan air mata. Sementara penguasa dan para pengikut yang melekat beriringan yang di support tentu tak mengenal kehidupan bak minum air Brotowali sambil menguyah rajangan Pare. Sama sama Pahit bukan..?

Bicara soal Jurnalistik, adanya risiko penurunan kunjungan pembaca ke situs media akibat maraknya ringkasan otomatis berbasis AI bisa kira pastikan menurun. Maka diperlukan tindakan verifikasi silang yang ketat agar sosok jurnalis tidak sepenuhnya bergantung pada hasil keluaran AI semata, harus di imbangi dengan data akurat, lakukan investigasi mendalam, hingga peliputan yang matang.

Jurnalisme tentu tidak boleh kalah hanya karena gagal berkomunikasi dan terus aktif manggali wawasan. Fakta yang paling akurat pun tidak akan memberi dampak apabila tidak pernah berhasil menjangkau berbagai perubahan di era saat ini. Dalam konteks ini, perhatian bukanlah musuh jurnalisme. Perhatian adalah pintu masuk menuju pemahaman. Yang harus dijaga tentu cara mendapatkannya bukan dengan cara keluar dari kode etik Jurnalistik.

Sejatinya, Jurnalisme harus menarik perhatian dengan relevansi, bukan dengan manipulasi bahkan berpikir mengolah agar menciptakan rupiah di lapangan, meski Jurnalis banyak cara dalam menciptkan hal itu.

Dulu di era tahun 2000an saja untuk menjadi wartawan masih terasa ingatan penulis, ibaratnya seperti menapaki tangga yang jelas. Misalnya seseorang lulus kuliah, entah itu S1 atau D3 bahkan SLTA dan setelah magang diterima di sebuah ruang redaksi perusahaan media baik media besar ataupun media midle dan sempat berpindah ke media yang lebih besar, lalu perlahan membangun reputasi baru, pengalaman baru bahkan menemukan sistem tim work dalam ruang redaksi yang baru.

Maka, Kondisi jurnalis di era kecerdasan buatan (AI) diwarnai oleh efisiensi produksi yang tinggi, tantangan integritas informasi, serta pergeseran peran tenaga kerja hingga tantangan mencermati penguasa yang terkesan fokus mengkotak kotakan barisan jurnalis, ini yang di sebut pemimpin tidak adil. Jika hal tersebut terjadi, maka penulis bisa saja terucap dengan istilah akan mencegat pemimpin tidak adil itu di pintu Surga, memohon kepada sang Khaliq agar harumnya surga pun tidak tercium bagi pempin yang tidak adil tersebut karena cara memotong kue kue saat di dunia zholim, meski semua tau kue kue tersebut bukan milik pribadi tapi milik rakyat.

Kembali melanjutkan soal AI. Sebagian besar jurnalis nyata banyak memanfaatkan AI sebagai peluang untuk riset awal, sementara aspek empati, verifikasi langsung, dan peliputan mendalam sejatinya tetap tidak tergantikan.

Dan saat ini, jalur Jurnalis jaman dulu kini, makin sulit ditemukan. Ruang redaksi menyusut, pemutusan hubungan kerja terus terjadi, kecerdasan buatan mengubah cara orang mengakses informasi, dan perhatian publik bergeser ke media sosial.

Perubahan lain yang tidak mungkin dihindari adalah hadirnya kecerdasan buatan. Chatbot AI telah mengubah cara orang mencari informasi. Banyak orang kini lebih memilih bertanya kepada mesin daripada membuka mesin pencari atau situs berita. Ini jelas menjadi tantangan besar bagi perusahaan media.

Akan tetapi, penulis tidak melihat AI sebagai akhir dari profesi wartawan.

Karena itu yang sedang berubah adalah nilai ekonomi dari berita yang hanya mengulang informasi yang sudah tersedia atau tidak berbobot bahkan terkesan ikut alur karena di iringi nominal rupiah, mengikuti komando dari rillis yang terintegrasi di grup grup yang membiasakan tugas Jurnalis sejati terabaikan dan mengundang malas.

Sementara, semakin mudah informasi dirangkum oleh AI, makin tinggi nilai kerja jurnalistik yang menghasilkan informasi asli. Mengapa? Mesin tidak bisa menghadiri rapat tertutup. Mesin tidak membangun hubungan dengan narasumber selama bertahun-tahun. Mesin tidak mendatangi lokasi bencana, tidak meminta dokumen publik, tidak mengonfirmasi informasi kepada berbagai pihak, dan tidak memikul tanggung jawab moral ketika sebuah laporan ternyata keliru. Semua itu tetap menjadi ranahnya manusia. Bahkan mesin tidak bisa wawancara secara doorstop.

Karena itu, wartawan masa depan mungkin tidak lagi dinilai dari seberapa cepat ia menulis berita, melainkan dari kemampuannya menemukan fakta yang tidak diketahui orang lain, menjelaskan konteks yang rumit dengan bahasa yang sederhana, dan membangun kepercayaan yang tidak bisa digantikan oleh algoritma. Bahkan bisa kita sebut siapapun wartawannya manakala sang penguasa suka dan support, disitulah volume karir dan tumbuhnya laju kesejahteraan melaju pesat hingga otomatis di iringi rekan rekan yang menempel, melekat ikut dalam gerbong aji mumpung. Namun itu semua tentu tidak permanen dan lagi lagi ada masanya.

Dalam konteks di Indonesia, tantangan ini juga menuntut perusahaan media untuk berubah secara total. Perubahan tersebut tentu tergantung hati nurani para penguasa mulai dari pusat hingga daerah. Banyaknya regulasi yang seharusnya tak perlupun diwujudkan tanpa sang penguasa ingat untuk mengkoreksi kebijakan yang mengalir demi kepentingan sendiri.

Maka, tentunya tidak adil apabila seluruh beban adaptasi hanya diletakkan di pundak wartawan. Ruang redaksi perlu memberikan pelatihan, membuka ruang eksperimen, memperkuat kualitas produk digital, dan yang tidak kalah penting, memperlakukan wartawan sebagai profesional yang layak memperoleh penghasilan dan perlindungan kerja yang memadai. Inovasi tidak boleh menjadi alasan untuk menambah pekerjaan tanpa meningkatkan penghargaan terhadap pekerjanya. Kita tau pekerja Jurnalistik tak mengenal waktu, jam makan terkadang terlewati hingga membuahkan penyakit yang kerap mampir pada pekerja Jurnalitik, imbasnya dipastikan anak istri sang Jurnalis, ya kan..?

Semua itu, tentu tergantung sehatnya keuangan negara, kemakmuran negara, kesejahteraan negara yang telah berusia menggapai 81 tahun ini, semoga para penguasa diberikan kebesaran hati menerapkan keadilan bukan melihat siapa yang pandai mencari muka, menerapkan aji mumpung dan siapa yang pandai menjilat, karena semua itu ada masanya. Dan kembali ke rabungan akherat apa yang kembali kita bawa, karena Umur tidak mengenal apakah tua, muda pejabat sedang Jaya hingga kelompok kelompok Jurnalis yang sedang melambung tinggi nilai nominal rupiahnya tanpa bersyukur dan mengingat sejarah sebelumnya…Tabikpuuuuun.!!!

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *